Cinta Laura Kiehl dan Visinya untuk Indonesia

Her visions of love.

13.08.18 by Givania Diwiya Citta
cinta laura kiehl

Cinta Laura Kiehl Saat kebanyakan pihak menganggap bahwa tinggal di berbagai kota sekaligus merupakan sebuah perjalanan yang ‘in and out’, Cinta Laura Kiehl justru secara tulus mencintai jalan hidupnya yang konstan berpindah. Cinta dilahirkan di Quakenbrück, menjadi remaja di Jakarta, berkuliah di New York, dan bekerja di Los Angeles. Namun dari hidup lintas tiga benua ini, ia mengaku karakternya telah ditempa dan cakrawalanya terbuka lebih luas. Beberapa hal yang tidak dieksposnya, yang mungkin membuat pribadinya tampak tertutup, adalah hasil dari interaksinya dengan berbagai tipe individu hingga membuatnya menjadi seorang yang adaptif seperti sekarang.

Bahkan sebenarnya, kemampuan Cinta dalam beradaptasi bisa ia lakukan tak peduli di belahan dunia mana pun ia tengah berada kini. Karena hak istimewa yang didapatnya dari terekspos berbagai kultur dan cara hidup yang divergen menjadikannya lebih dari sekadar familier terhadap norma-norma dalam masyarakat. Membuatnya memahami mengapa sekelompok orang melakukan hal tertentu dalam menjalani hidupnya, hingga menjadikannya tahu cara bersikap saat sedang berada di lingkungan yang mirip.

Dengan dua DNA Jerman dan Indonesia yang mengalir dalam dirinya, seluruh karakter yang diwarisinya semakin memungkinkannya untuk menajamkan caranya dalam berinteraksi dan berhubungan dengan orang lain. Darah Jerman yang diwarisinya mengajarkannya untuk menjunjung tinggi nilai ketepatan, efisiensi, dan integritas, yang membuat kita bisa melihat hasilnya pada etika kerja Cinta yang bisa diandalkan dan dapat dipercaya. Sisi lainnya, Cinta mewarisi darah Indonesia yang melengkapinya sebagai seseorang dengan kasih sayang, kepekaan, dan empati yang lebih terasah.

cinta laura kiehl

Roots Before Branches

Tapi barulah hampir satu setengah tahun ini, perjalanan hidup Cinta rasanya baru dimulai saat ia konstan bepergian. Berawal dari keterlibatannya membintangi film Crazy for the Boys di Savannah, Georgia, kemudian mengunjungi NYC untuk New York Fashion Week September lalu, bersambung menghadiri Paris Fashion Week bersama Omega, dan mengakhiri tripnya dengan ekstensi menuju Florence dan Barcelona untuk menikmati waktu luang di Eropa. Pada bulan November ia bepergian ke Meksiko untuk menghadiri pesta pernikahan seorang teman yang mutlak menyenangkan, lalu saat Desember ia pulang ke Indonesia untuk membintangi film Target garapan Raditya Dika yang belum lama ini rilis. Ia bahkan tak lama baru saja pulang dari Maroko, dan tengah bepergian terus antara Los Angeles dan New York berkaitan beberapa proyek yang ia miliki di dua kota tersebut.

Kunci dari kesuksesannya dalam menempatkan diri pada berbagai proyek lintas destinasi tak lain adalah pengelolaan waktu. Ia mendapatkannya terutama saat menempuh pendidikan tinggi di Columbia University. Ia akan merencanakan setiap detail yang harus dilakukan untuk bisa memenuhi seluruh tugas sesuai tenggat, dan saat jadwal sekolah berselisih dengan pekerjaan, maka ia akan mengorbankan jam tidur dan waktu luang demi seluruh kewajiban yang dituntutnya. Seperti kata-kata ini, “Saat ada niat, maka akan ada jalan,” Cinta tak pernah membuat alasan untuk menunda sesuatu, dan kerja keras serta tujuan yang pasti berbuah prinsip untuk menyelesaikan segalanya dengan mengerahkan yang terbaik dari diri. Termotivasi, determinatif, dan kompetitif, Cinta mengatasi semua rintangan yang terbentang di hadapannya, dan ia tak akan berhenti stagnan.

Di antara gemerlap industri hiburan, Cinta adalah salah satu bintang yang bersinar dalam kehidupan akademik. Tak ayal ia menamatkan dua gelar dalam satu waktu, sekaligus lulus dengan titel berpenghargaan. Motif yang mendorongnya sedeterminatif ini murni berkat keharusan yang ia rasa penting untuk merasa penuh menjalani hidup. Tapi lebih dari mengajarinya untuk berbuah pikir, edukasi formalnya memberi wawasan mendalam tentang perilaku manusia, yang pada akhirnya membantunya dalam berkarier seni peran. Edukasi formal justru membuatnya lebih paham terhadap seluk-beluk teknis manusia saat berperilaku, yang memberi dampak lebih terhadap performanya selain dari berlatih dan pengalaman saat berprofesi sebagai aktris. Tapi yang kita tahu, persona Cinta berpengaruh lebih jauh dalam membuka mata kita bahwa menyeimbangkan banyak hal sekaligus adalah memungkinkan untuk dilakukan, bahkan diselesaikan dengan prestasi memuaskan.

cinta laura kiehl

Fields of Vision

Ia memiliki visi bahwa edukasi adalah kunci dalam memecahkan ketidakmerataan sosial. Ia yakin bahwa edukasi membantu mengembangkan pola pikir terbuka, yang akan membuat seorang individu menjadi pemikir kritis. Edukasi pula yang akan membantu seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan layak melalui kualifikasi yang dimiliki. Itulah mengapa Cinta terdorong untuk membangun ulang sekolah-sekolah yang usang di Indonesia dan menjaga sistem pendidikannya sesuai standar melalui yayasan keluarganya, Soekarseno Peduli. “Sebagai individu dual ras yang tinggal di beberapa negara berbeda, keinginan untuk belajar dan beradaptasi terhadap cara hidup orang lain adalah penting untuk membuat kita kooperatif dan berkembang. Karenanya, saya harap melalui sekolah-sekolah saya di Indonesia, mampu membantu generasi selanjutnya dalam memahami pentingnya sifat ini.”

Sebagai seseorang yang terus menerus menantang dirinya sendiri untuk mencoba hal baru dan berinteraksi dari orang-orang berlatar industri berbeda, ia menyadari bahwa bepergian, belajar, dan memahami kultur serta kepercayaan berbeda, adalah bentuk edukasi tak ternilai harganya yang tidak akan didapatkan dari mana pun. “Dunia ini bisa menjadi lebih baik saat orang-orang mampu menerima fakta bahwa tak ada cara tunggal yang mutlak untuk menuju hidup penuh kesuksesan. Justru perbedaan kitalah yang membuat kita unik sebagai individual, sebagai kolektif, dan sebagai masyarakat. Kita harus menerima perbedaan ini dan membuatnya menjadi kekuatan kita untuk meningkatkan kondisi sesama manusia.”

cinta laura kiehl

PHOTOGRAPHY: Claus Schmidtt

STYLING: Alva Susilo

MAKEUP: Bubah Alfian

HAIR: Arnold Dominggus

PHOTOGRAPHED AT: Raffles Jakarta