Finalis Loewe Craft Prize 2018

Kekayaan dari dunia seni sudah menjadi suatu elemen yang dihargai oleh Loewe. Bahkan dapat dilihat dari suasana peragaan busananya pada pekan Paris Fashion Week lalu dimana obyek-obyek seni menjadi bagian dari dekorasi presentasi koleksi Fall-Winter 2018-19 rumah mode ini. Dengan… View Detail

16.04.18 by Ardika Pradnya
Jonathan Anderson Loewe

Kekayaan dari dunia seni sudah menjadi suatu elemen yang dihargai oleh Loewe. Bahkan dapat dilihat dari suasana peragaan busananya pada pekan Paris Fashion Week lalu dimana obyek-obyek seni menjadi bagian dari dekorasi presentasi koleksi Fall-Winter 2018-19 rumah mode ini. Dengan seni kerajinan atau craftsmanship yang menjadi kunci utama heritage dari Loewe, cukup lumrah bahwa kini saatnya bagi Loewe untuk memberikan kembali kepada dunia seni melalui Loewe Craft Prize.

 
Loewe Craft Prize

Untuk itu semenjak tahun 2016, Loewe Foundation mencanangkan Loewe Craft Prize demi mempertahankan profesi di dunia seni, dan memberikan penghargaan pada seniman-seniman baru dengan talenta exceptional dan kebaharuan dalam karyanya. Tahun ini, panitia Loewe Craft Prize berhasil menyaring 30 finalis dari sekitar 1,900 peminat yang berasal dari 86 negara, menunjukan besarnya level antusiasme pada ajang ini.

 

Jonathan Anderson

 

Pada proses penilaiannya, 11 ahli berkumpul di kota Madrid selama 2 hari untuk me-review karya-karya tersebut, sebelum memberikan nilai berdasarkan level teknik, inovasi, dan visi artistik. Kemudian, 10 figur penting dari dunia design, termasuk Ernst Garmpel, pemenang tahun lalu, dan Jonathan Anderson, direktur artistik dari Loewe, akan menentukan peraih Loewe Craft Prize 2018 yang akan mengantongi uang tunai sejumlah 50,000 Euro. Pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 3 Mei 2018 mendatang.

 

Ernst Garmpel

 

Setelah itu, 30 karya para finalis dipajang di Design Museum di London mulai dari tanggal 4 Mei sampai 17 Juni 2018. Beberapa karya tersebut menunjukan visi yang distingtif dan kaya akan craftsmanship, yang banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya dari negara asal sang seniman.

 
Finalis

 

Arko

Karya dari Asato “Arko” Sato berjudul ‘Third Time Rainfall’ merupakan hiasan gantung yang terbuat dari jerami padi. Berasal dari negeri Jepang dimana padi menjadi bahan pokok keseharian masyarakatnya, Arko bertujuan untuk menampilkan unsur etnik Jepang pada karyanya yang merupakan sulaman jerami berbentuk motif yang indah.

Sam Tho Duong

Seniman Sam Tho Duong dari Jerman memiliki konsep yang berbeda melalui karyanya ‘Frozen/Se[e/a]/Look’ yang merupakan sebuah set perhiasan yang terbuat dari mutiara laut berlapis emas. Dengan mata kepala kita sendiri pun kita sudah dapat memahami tingkat kerumitan yang diperlukan dalam kreasi obyek yang cantik ini.

 

Sam Tho Duong

Berasal dari Tiongkok, Min Chen mengambil inspirasi dari gaya hidup santai penduduk Hangzhou City, yang membantunya dalam membentuk obyek furnitur ‘Hangzhou Stool’. Terbuat dari bambu yang merupakan referensi kuat dari budaya Tiongkok, desain dari bangku ini juga mereferensikan gaya Bauhaus Ulmer Hocker stool dari Max Bill. Perpaduan yang cerdik.

 

Tea Bowl

Permainan kontras merupakan elemen kunci bagi Takuro Kuwata, dengan karyanya ‘Tea Bowl’ yang kecil namun cukup menarik perhatian. Tekstur porselen yang dibuat tidak rata secara sengaja dibalut oleh platinum dan besi yang memberikan efek berkilau.

 

Christopher Kurtz

Singularity

Obyek lain yang mencuri perhatian adalah ‘Singularity’ oleh Christopher Kurtz. Dengan teknik ukiran tangan, obyek ini dibentuk dengan menonjolkan sifat dari kayu Tilia yang padat namun juga elastis, dengan bentuk konstelasi yang mengundang perhatian.

XL Growth

Pheulpin

Salah satu obyek impressive yang menjadi finalis, ‘Croissance XL’ ata ‘XL Growth’ dari Simone Pheulpin, seniman asal Perancis, merupakan sebuah ilusi optis yang sangat indah. Dengan menggunakan kain kanvas dan jarum saja, ia berhasil membuat sebuah obyek yang menyerupai fosil kuno dari kayu pohon.

 

Chang

Karya Yeongsoon Chang memiliki makna yang cukup mendalam. ‘Matrix III Time, Space, Human – 1,2,3’ merupakan sebuah homage bagi Chang pada buruh wanita di abad lalu yang harus membuat kain mereka sendiri. Dengan 30 kali pencelupan warna, benang biru indo abaca ini ditata untuk membentuk sebuah obyek futuristik.

Artist dengan karya yang menakjubkan akan diumumkan sebagai pemenang dari Loewe Craft Prize 2018. Hal ini dapat diadakan berkat keterlibatan Jonathan Anderson, sang Creative Director dari Loewe yang mencetuskan ide dari penghargaan ini, terinspirasi oleh sejarah Loewe yang terlahir dari perkumpulan seniman dan pengrajin di tahun 1846.

Seperti Jonathan Anderson utarakan sendiri, “Kerajinan atau craft adalah inti dari Loewe. Sebagai sebuah rumah mode, kita dibentuk oleh kerajinan dalam arti kata yang paling murni. Di situlah letak modernitas kita, dan itu akan selalu relevan”.

We are eager to discover the winner of this prize. Until then, stay tune!