Harry Halim: Third Culture Treasure

Harry Halim once took over Singapore by storm with his dark romantic aesthetics, before being the first ever Indonesian designer to be in the official calendar of Paris Fashion Week. The designer exclusively revealed to us the history behind his label and what is needed in Indonesia’s design and cultural scene.

20.07.18 by Ardika Pradnya
Harry Halim Laras Sekar

From Singapore, to Paris and Jakarta, pria kelahiran Indonesia ini menunjukkan bahwa the power of creativity can cross all borders. Sebagai desainer Indonesia pertama yang mendapatkan validasi langsung oleh Federasi Mode Perancis untuk menampilkan koleksinya dalam kalender resmi Paris Fashion Week, Harry Halim melejitkan namanya sebagai desainer kelas dunia.

Namun, profesi ini bukanlah rencana awal Harry Halim yang awalnya berpikir untuk menjadi seorag ahli bedah. Pendidikannya dalam kesenian lantaran menumbuhkan kecintaannya pada dunia fashion, dan terutama di dalam sektor luxury.

Estetika Harry Halim yang sangat distingtif terlahir dari inspirasi diri yang cukup personal baginya, “Everything has to come from the soul. Sekarang, semua orang bisa menjadi ‘desainer’, tapi tidak semuanya benar-benar memiliki jiwa untuk itu.” Ujarnya. Ia pun percaya bahwa proses kreatifnya sangat didorong oleh dorongan jiwa tersebut. “Tidak ada yang mudah di dunia ini. But as long as you listen to what’s deep in your soul, kita akan mampu untuk membuat sesuatu yang sesuai dengan hasrat sejati kita.” tambahnya.

Harry Halim Laras Sekar

Menjadi seorang desainer global mungkin sudah menjadi takdir yang terbentuk semenjak kecil. Meskipun Ia telah membagi hidupnya di berbagai kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Shanghai, London, Paris, dan Jakarta, ia tetap merasa bahwa setiap kota tersebut merupakan bagian dari dirinya. Tentunya, semenjak menginjakan kaki di kota Paris pada usia 20 tahun, kota tersebut memiliki kesan yang sangat mendalam bagi Harry.

Setelah bepergian ke City of Lights di awal karirnya berkat pekerjaannya di Singapura, kemisteriusan dan keindahan dunia seni kota Paris membuatnya memutuskan untuk menetap disana. Dengan berbekal 3 koper berisi koleksi yang telah dilansir di Singapura, dan tanpa mengenal siapapun disana, ia tetap bertekad untuk melanjutkan karirnya sebagai fashion designer di kancah mode paling bergengsi di dunia.

Dalam prosesnya untuk mempelajari industri mode di Perancis, Ia cukup beruntung telah bertemu dengan mendiang Azzedine Alaia, yang membuka pintu studionya untuk Harry dimana ia berkesempatan untuk mendampingi Alaia dalam waktu yang cukup singkat namun sangat bermakna. “He was a real couturier. He designed, touched the fabrics, and was interacting with the seamstresses.” Hal ini akhirnya menjadi cara kerja yang Harry sendiri lakukan, “Menjadi seorang desainer dengan label sendiri, pekerjaan saya tak hanya membuat sebuah koleksi. You have to be able to do everything by yourself, dan juga mengenal klienmu dengan sangat baik.”

Elemen penting tersebut nampaknya membuahkan hasil bagi Harry Halim yang dengan usia muda sudah mampu menjual koleksinya di beberapa butik high-end ternama di Eropa, Hong Kong, dan bahkan Timur Tengah, seperti Luisa Via Roma dan Joyce.

Harry Halim campaign

Di luar labelnya sendiri, keahliannya dalam berkreasi akhirnya juga bergaung di kalangan fashion Paris. Lantaran ia menjadi kandidat final posisi Design Director di rumah mode Givenchy, untuk mendampingi sang Creative Director saat itu, Riccardo Tisci. Namun memang sudah jalannya bagi Harry Halim untuk memfokuskan segala energinya kepada labelnya sendiri.

Dengan dunia mode yang bergerak cepat, serta dengan berkembangnya industri digital, fokus memang sesuatu yang diperlukan oleh Harry. “We have to stay true to who we are, dan menjaga taste level kita, termasuk dalam social media.” Ungkapnya. Ditambah lagi, dengan online store Harry Halim yang akan segera diluncurkan. Harry surely has plenty on his plates.

Meski berkembang di luar negeri, Harry mengakui bahwa Industri mode Nusatara memiliki potensi yang tinggi. Namun, ia sangat menyayangkan kurangnya sumber inspirasi, dikarenakan oleh kurangnya spot kultural seperti musium, art galleries, ataupun perpustakaan. “In Indonesia, we are lacking a place to do proper research, bukan hanya melihat Tumblr dan Pinterest saja, akibatnya, banyak desainer dan label Indonesia hanya mendaur ulang inspirasi yang sudah ada. Eventhough in fashion sudah tidak ada yang original lagi, namun yang terpenting adalah bagaimana kita mengembangkan sebuah ide to another level, dan itu saya rasa adalah tantangan besar yang banyak desainer di Indonesia hadapi.” Tambahnya.

Setelah melintasi berbagai budaya dan berbagai achievement yang diperolehnya, hal yang paling Harry banggakan adalah dengan keberhasilannya untuk menjaga labelnya agar tetap berdiri, karena itu adalah hal yang sangat tidak mudah.

So, what’s next untuk Harry Halim? Setelah online store dan koleksi resort, ia mengungkapkan adanya koleksi pertama Menswear Harry Halim and who knows, maybe Couture! As we have always been, we are excited to follow his journey. 

 

Profile Photo: Ikmal Awfar
Model: Laras Sekar

harry-halim-campaign-3 harry-halim-campaign-4 harry-halim-campaign-2 harry-halim-campaign-5
<
>