Perempuan di Balik Label Mazuki

L’Officiel Indonesia chatted with one of the most promising emerging designers from Indonesia, Miranda Mazuki. She revealed her vision and how her experiences abroad have shaped her.

20.07.18 by Ardika Pradnya
Miranda Mazuki

Muda dan bertalenta, Miranda Mazuki memulai labelnya pada tahun 2015 yang memberikan hembusan segar pada industri mode Indonesia. Besar di Singapura dan menimbah ilmu di Los Angeles, this promising young designer turut mengharumkan nama bangsa dengan mulai berpartisipasi di skala Internasional, sembari menampilkan sisi yang different from what is expected from an Indonesian designer.

Setelah menyadari kurang adanya label desainer contemporary ready-to-wear di Indonesia, perempuan muda ini termotivasi untuk memulai labelnya sendiri, Mazuki. Setelah beberapa tahun bekerja di Amerika Serikat, dan salah satunya di sebuah perusahaan Ready-to-wear di New York, ia yakin bahwa kehadirannya di tanah air dapat memberikan perspektif yang fresh.

Being young and curious memang telah menjadi sikap yang dibawa oleh Miranda semenjak masa pembelajarannya di Amerika. Disana, Ia tidak takut untuk mencoba berbagai pekerjaan yang menggugah keinginannya untuk belajar, does not matter where, what, or how long. Pada akhirnya, ia berhasil mengambil pengalaman yang berharga dan perspektif baru yang lantaran membekalinya dalam membangun labelnya sendiri.

Miranda-mazuki

Seperti pengalamannya dengan rumah mode Valentino dimana ia bekerja membantu humas dalam event Golden Globes di Los Angeles, yang memberikannya a sense of respect terhadap peran humas dalam sebuah fashion house. Selain itu, ia juga turun ke sisi lain dari industri ini sebagai seorang sales advisor untuk rumah mode (yang waktu itu bernama)  Yves Saint Laurent, sebuah pengalaman yang juga berharga baginya sebagai seorang designer.

“Who you really think will wear your collection, will be very different from who will really buy your collection.” Ujarnya. Dalam pengalamannya di sales floor inilah ia mempelajari pentingnya aspek komersial dalam sebuah fashion brand.  “Sebagai seorang desainer, this is where you compromize with your idealism. Your collection could be one thing, tapi kita harus ingat bahwa kita juga harus menjual. Itu harus saya pikirkan saat mendesain, bahkan pada hal-hal kecil seperti warna atau ukuran” Tambahnya.

Dari segi kualitas, Mazuki juga memastikan agar setiap pieces mencapai kualitas dengan level yang tinggi. Dengan 100% produksi di Indonesia, Miranda tidak melihat itu sebagai sebuah hambatan dalam mencapai kualitas. “Justru ini tugas saya sebagai desainer, untuk memastikan bahwa setiap estetika yang ingin saya hasilkan adalah something doable. Bagaimanapun juga, fashion adalah masih industri yang muda di Indonesia, jadi kita masih banyak belajar dalam memproduksi pakaian dengan level teknis yang tinggi.” Ungkapnya.

Selain berbagai aspek fashion business yang cukup penting tersebut, Mazuki tidak pernah lupa untuk tetap having fun. Hal ini terjaga pada saat menghasilkan berbagai campaign images yang tak hanya visually strong, namun juga tetap beraksen cool. Menurut Miranda, mengenali identitas brand Mazuki adalah kuncinya, “We are playful, we are casual yet still distinctive, but the clothes speak for themselves. I don’t need to force a personality.” Tambahnya. Inilah juga elemen yang terlihat di company culture Mazuki dimana ia memastikan non-hierarchical environment sebagai sebuah tim.

mazuki campaign

A certain carefree attitude yang dijaganya ini juga akhirnya merupakan a breath of fresh air di masyarakat masa kini yang sangat terobsesi dengan pencitraan di social media. Meski hadir dalam media sosial, Mazuki mencoba untuk tidak over-share. “We are still quite a rebel on that” Dengan jujur Miranda memaparkan.

Staying positive juga merupakan attitude yang Miranda coba bawa. Sebagai young designer di Indonesia, Miranda mengaggap bahwa hambatan akan selalu ada, namun Ia memastikan untuk tetap maju dan berbicara mengenai solusi, daripada mengeluh.

Dengan attitude tersebutlah Miranda mencoba untuk mulai menyentuh pasar internasional. Hasrat ini datang dari tantangan yang ada sebagai orang Indonesia. “Indonesia seringkali masih digambarkan sebagai negara yang primitif oleh masyarakat asing. Itulah yang menggugah saya untuk menunjukkan bahwa we are beyond ethnic and traditions, we are also advanced and we have great talents ” Tambahnya. Ia juga percaya tantangan ini juga seharusnya dapat mempersatu para perancang muda di Indonesia untuk saling mendukung satu sama lain.

Misi tersebut mulai dijalankan sebagai salah satu desainer yang terpilih untuk mewakili Indonesia dalam program Indonesian Fashion Forum, dimana ia diundang untuk memamerkan koleksinya dalam sebuah showroom pada saat Paris Fashion Week. Pengalaman yang exciting tersebut juga ia akui sangat membantunya untuk berkembang dalam berbagai aspek, salah satunya dalam menerima berbagai kritik dan masukan.

“Meski desainer Indonesia kadang masih dipandang dengan sebelah mata, I am proud to be an Indonesian designer in such an International platform.” Tegasnya. On that note, she seems to take the right step forward!

 

Foto profil oleh: Ikmal Awfar
Model: Sveta /Fuse Models

 

mazuki-campaign-2 mazuki-campaign-3 mazuki-campaign-4 mazuki-campaign-5
<
>