Tatjana Saphira: In Full Bloom

Unpublished confessions of the July/August 2018 cover star.

19.07.18 by Givania Diwiya Citta

Cerita yang Belum Anda Ketahui tentang Tatjana Saphira – Lahir dengan dua kultur dunia berbeda, Tatjana Saphira yang kini berusia 21 tahun nyatanya dibesarkan dengan kemampuan mengekspansi cakrawalanya, dan membuat dunia yang penuh heterogenitas justru menjadi ‘rumah’ baginya. Tapi karakter dewasa yang diembannya bukan lain adalah manifestasi dari tempaan determinasinya terhadap bidang pekerjaan yang ia tanam penuh dedikasi. She’s here in her current state to relentlessly becomes the young-adult that teenagers (and we all) look up to.

Apa yang paling Anda cintai dari seni peran?
Saat bisa menghibur dan memberikan suatu pesan pada para penonton setelah keluar dari bioskop. Saya sendiri menyukai menonton film yang bisa membuat saya merasakan sesuatu, baik kesenangan atau kesedihan, bahkan yang saat keluar dari bioskop bisa membuat saya memikirkan sesuatu. Menurut saya, saat film sudah mencapai poin itu, maka tujuan dibuatnya film tersebut berhasil. Dan bagi saya personal, seni peran membantu saya untuk mendorong limit saya lebih jauh. Saya bisa mengeksplorasi hal baru yang berbeda dari diri saya, dan membuat yang tadinya tidak pernah saya lakukan, ternyata bisa saya lakukan berkat tuntutan dan tantangan dari setiap peran yang dimainkan.

Sejak mengawali karier dalam film pada usia 13 tahun, apakah karier Anda sudah berevolusi sesuai yang Anda inginkan?
Mungkin tidak sesuai seperti yang saya inginkan, karena setiap orang pasti punya ekspektasi tertentu untuk dirinya sendiri, dan kadang kita membidik tujuan kita terlalu jauh. Tapi itu bukanlah hal buruk. Tentu karier saya berevolusi, karena kalau tidak, saya tidak akan ada di posisi saya yang sekarang. Saya merasa posisi saat saya memulai dan saya yang sekarang, sudah ada jarak yang cukup jauh yang sudah saya tempuh. Bukan hanya melalui pekerjaan saya, tapi sebagai individu pun saya sudah berkembang. Contohnya dulu saat saya memulai, saya sangatlah pemalu dan pendiam, bahkan tidak berani menatap mata orang lain. Dan saya sudah berhasil melaluinya. Intinya, saya adalah seorang yang sangat menghargai proses, saya tidak ingin membebani diri saya terlalu banyak atau menjadi sempurna, karena tidak ada yang sempurna. Dulu saat saya melihat orang-orang yang saya acu tampak seperti memiliki hidup yang sempurna, lalu saat saya mengenal mereka, sebenarnya tidak ada yang disebut sempurna. Saya jadi tahu proses yang mereka lewati adalah tidak mudah. Yang terpenting, kita sebagai manusia, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menjadi lebih baik dari diri kita sebelumnya.

tatjana saphira

Lantas apa tujuan akhir jangka panjang Anda dari berkarier dalam film?
Saya hanya ingin terus melanjutkan bekerja, dan bila bisa membuat karier ini jangka panjang, maka mengapa tidak? Karena seni peran tidaklah terbatas hanya untuk rentang usia tertentu. Kita selalu naik level, kita mengalami proses pendewasaan, jadi akan selalu ada peran untuk kita. Seperti pada film-film Holywood di mana Meryl Streep, Robert De Niro, Julia Roberts, peran sebagai orang tua bahkan bisa menjadi tokoh utama dalam film. Itu pula harapan saya semoga perfilman Indonesia bisa ikut berkembang. Di sini kita masih jarang melihat hal seperti itu, karena di sini masih selalu mencari seseorang yang baru, yang lebih muda. Tidak apa-apa juga, tapi kalau bisa seperti Holywood, mengapa tidak.

Anda memang sudah meniti karier dari Jakarta. Adakah terlintas untuk mengekspansinya ke bagian dunia yang lain, seperti Jerman terlebih dahulu mungkin?
Papa saya sudah sering sekali bilang bahwa sebenarnya saya bisa kalau ingin, tapi pertama-tama, saya rasa akan sedikit sulit karena ada kendala pada bahasa. Ya, memang bahasa bisa dipelajari jika saya ingin melancarkan bahasa Jerman saya, tapi itu akan memakan banyak waktu. Entahlah, saya masih ingin untuk fokus di sini untuk membuat diri saya lebih established. Bila ada tawaran, we’ll see, tapi saat ini selagi tidak ada tawaran, maka saya akan fokus dengan apa yang ada di depan saya.

Adakah perbedaan pada industri film kita yang sekarang dengan saat Anda memulainya dulu tahun 2013?
Jumlah film yang diproduksi semakin banyak, dan jumlah penonton juga semakin meningkat. Saya juga dengar bahwa sekarang bioskop memiliki quality control untuk penayangan film di bioskop mereka. Produser harus mengirimkannya dulu ke mereka untuk dilihat terlebih dahulu, karena sebagai yang menayangkan film, mereka juga harus bisa menerima profitnya. Hal ini juga bagus karena bisa meningkatkan rasa tanggung jawab masing-masing produser untuk tidak hanya berbisnis dalam film, namun juga menciptakan karya yang memiliki nilai.

tatjana saphira

Adakah satu karya film ultimate yang ingin Anda wujudkan?
Saya senang film bergenre sejarah hingga thriller. Seperti Gone Girl, pasti akan menyenangkan bisa mengeksplorasi satu karakter yang diperankan Rosamund Pyke. Atau mungkin sebuah biopik atau period piece di mana latarnya tahun 1920, pasti menantang. Tapi tujuan utama saya adalah, karena saya sudah bekerja dengan beberapa produser dan mengetahui bisnis film secara umum, rasanya suatu hari nanti, saya ingin menjadi produser dan membuat film saya sendiri. It’ll be really fun.

Dorongan apa yang Anda terima hingga bisa membuat Anda untuk terus maju?
Dari keluarga saya, tentang bekerja keras sebelum menuai imbalannya. Seperti dulu saat masih sekolah, bila saya akan meminta uang jajan, maka saya terlebih dulu harus mengerjakan sesuatu, hal sederhana seperti membereskan rumah atau memijat mama atau papa. Mereka mengajarkan saya bahwa Anda tidak akan mendapatkan apa yang diinginkan bila Anda tidak memperjuangkannya. Karena tidak ada orang lain yang akan mengerjakannya untuk Anda. Sedari kecil, mereka sudah mengajarkan saya untuk menjadi independen, mau bekerja keras, tidak mudah mengeluh, dan belajar menyikapi perkataan negatif, apalagi di era media sosial ini di mana semua orang bisa melakukan apapun yang mereka mau tanpa filter. Tapi orang tua saya selalu menguatkan saya untuk tidak menanggapinya secara personal, dan daripada terfokus dengan hal-hal yang negatif, alihkan pikiran pada hal-hal yang lebih penting dan bisa membuat kita maju.

Bagaimana cara Anda untuk terus menyebarkan positivitas melalui media sosial?
Karena banyak diikuti oleh anak-anak muda, atau bahkan anak-anak kecil yang sudah punya Instagram, jadi sebisa mungkin saat saya mengunggah sesuatu, saya pastikan itu adalah hal yang baik-baik.

Tatjana Saphira

Pernahkah Anda melakukan detoks digital?
Saya pernah melakukannya dan itu sangat enak. Karena saat kita bermain media sosial, kita seolah tidak hadir dan menghargai momen yang nyata, kita justru lebih banyak mencari tahu apa yang sedang dilakukan orang lain, dan terbombardir dengan semua foto-foto acara di tempat lain. Apalagi di Instagram, Anda bisa banyak melihat kehidupan orang lain, dan berpikir bahwa hidup mereka pastilah sempurna dari apa yang mereka tunjukkan. Padahal yang sesungguhnya, itu adalah hasil bagus dari apa yang mereka kurasi akan hidup mereka. Saya sendiri ingin bisa mengurangi hal itu di Instagram saya. Saya tidak ingin orang berpikir bahwa saya memiliki hidup yang sempurna, saya ingin orang bisa merasa terhubung dengan saya. Dan satu hal lagi yang ingin saya kerahkan dari platform digital saya, adalah untuk menjadi suara bagi anak-anak muda yang memiliki isu-isu seperti body shaming, bullying, tidak percaya diri, keresahan, hingga banyak yang menyalahkan diri mereka sendiri, padahal itu bukanlah kesalahan mereka. Memang wajar bila orang mengalami hal itu, tapi saya ingin bisa menjadi figur yang bisa mereka anut, dan memberi pesan pada mereka bahwa mereka tidak menghadapinya sendirian. Saya juga pernah mengalami body shaming, and it really sucks. Bahkan sampai sekarang, saya masih belajar bagaimana untuk menyikapinya. Ada hari-hari di mana beberapa orang menyerang saya langsung di Instagram, dan saya merasa harus melakukan sesuatu terhadap hal ini. Akhirnya saat saya suarakan lewat tulisan dari InstaStory, saya mendapat banyak respon bahwa mereka pun merasakan hal yang sama. Banyak yang mengirim DM (direct message) pada saya dan menceritakan pengalaman pribadi mereka mengenai body shaming. It’s a small action, but have a very big impact. Bisa membuat orang lain merasa lebih baik terhadap diri sendiri.

PHOTOGRAPHY: Thomas Sito
STYLING: Jonathan Andy
MAKEUP: Ryan Ogilvy
HAIR: Aleon

Baca selengkapnya di majalah L’Officiel Indonesia No. 54.