Glen Nanlohy dan Peran sebagai Music Director

DJ penyuara acid jazz di belantara musik house era ’90-an, fasilitator Kings of Convenience, Feist, Phoenix selaku top scene indie internasional ke Indonesia, dan Music Director bagi ragam melting pot ibukota. Itulah peran Glen Nanlohy dalam keterlibatannya menghidupkan art of celebration yang otentik dan kontemporer bagi Jakarta.

12.12.18 by Givania Diwiya Citta
glen nanlohy

Di era ’90-an di Jakarta manakala musik classic house hingga deep house mendominasi, Glen Nanlohy justru melawan arus untuk mengeksplorasi acid jazz. Begitu pula saat dia DJing dalam dominasi scene classic disco, Glen justru memastikan musik yang ia perdengarkan bukanlah lagu-lagu komersil, dan merupakan subgenre acid jazz, yang tak jarang pula membuatnya dipulangkan dari DJ booth nightclub Jakarta berkat seleksi musiknya yang dilabeli terlalu “rumit”.

glen nanlohy

2ManyDJs

Tapi Glen tetap berpegang pada misi personalnya yang tak bisa dipungkiri terpengaruh oleh kota Jakarta yang membesarkan dan membentuk sense of survival miliknya. “Seperti jika ingin bertahan di Jakarta, lihat apa yang tidak ada di Jakarta, apa yang ada di Jakarta, dan apa yang bisa diberi untuk Jakarta,” prinsipnya yang ia lantas implementasikan pula dalam musik. Glen memperkenalkan acid jazz yang tadinya tidak familier di Jakarta, dia bawa masuk ke Jakarta, dan dia bagikan agar orang-orang bisa menikmatinya.

Glen nanlohy

U.F.O

Glen memang bukan pemain musik, tapi ia mencintai mendengarkan musik. Itu juga yang menjadi alasan mengapa kesadaran Glen terhadap subgenre acid jazz yang memadukan jazz, trip hop, hip hop, funk, soul muncul, meski hasratnya timbul secara tidak sengaja dari melihat rilisan kompilasi musik bertitel acid jazz. Glen lantas membeli piringan hitam acid jazz pertama milik band asal Tokyo United Future Organization atau U.F.O (dan menjadi referensi signature Glen yang bisa kita kenali dalam permainannya semasa menjadi DJ), dan mengikuti perjalanan acid jazz Jepang seperti yang dilakukan mantan personil U.F.O, Toshio Matsuura, hingga DJ pelopor dalam acid jazz, Gilles Peterson.

glen nanlohy

Toshio Matsuura

Pada pertengahan dekade ’90-an lah, turning point Glen mampu membuat groove dan bassline distingtif dari acid jazz diterima, terutama saat ia bermain dengan Anton Wirjono di salah satu klub malam legendaris Jakarta, Bengkel, dengan ribuan crowd yang menikmati berdansa terhadap satu bahasa universal musik.

glen nanlohy

Kings of Convenience

Nama Glen Nanlohy juga lekat diasosiasikan dengan Soundshine Events, festival musik pertama yang menyajikan pasar musik indie internasional pada Indonesia. Dengan sederet nama besar musisi indie seperti Phoenix, Kings of Convenience, hingga Feist, untuk tampil dan menghidupkan crowd spesifik yang nyatanya loyal ini, Soundshine Events yang digawanginya juga menjadi ajang yang ditunggu oleh para crowd lengkap dengan buntut pertanyaan loyal seperti seniman siapa lagi yang akan dibawa ke Indonesia. Seperti yang akan berlanjut kembali di tahun 2019, Glen pun akan terjun kembali menggarap Soundshine Events yang rencananya akan dikemas selayaknya festival yang intimate dan terasa sangat Soundshine.

glen nanlohy

The Raveonettes

Meski Glen memiliki histori kuat yang berkutat di musik, namun selama 19 tahun ia justru berkarier korporat untuk Japan Airlines, hingga pada tahun 2013, Glen mengajukan dirinya pada teman-teman pendiri Union Group untuk berprofesi sebagai Music Director. Selama empat tahun lebih, Glen berperan mengeksekusi kontinuitas hubungan antara musik-makanan-minuman menjadi satu di berbagai melting pot ibukota seperti Union, Loewy, Benedict, dengan tujuan memberi kenyamanan pada para pengunjung untuk tetap tinggal bahkan setelah sesi bersantap selesai.

glen nanlohy

Alex Pratt

Tantangannya, jika saat DJing ia bisa melihat reaksi langsung crowd terhadap musik (when people dance means the music is good), maka saat ia memerankan profesi Music Director, kurasi musiknya untuk suatu tempat serta acara baru akan ada hasilnya setelah meriset perilaku konsumen selama satu minggu. Jika gagal, maka Glen harus menggubah total playlist yang dianggapnya sebagai tanggung jawab moral ini, dan menganalisa lebih dalam tema tempat, konteks acara, hingga tema wardrobe. Teknisnya, ia akan mengelompokkan playlist per mood dan ambience, yakni untuk lunch, happy hour, dinner, hingga late, dengan playlist yang bisa berisi 80 hingga 100 tracks berdurasi 10 jam, dan diperbaharui untuk empat sampai lima bulan ke depan.

glen nanlohy

Sigala

Lebih dari itu, Glen juga konstan menantang diri hingga kini menjabat sebagai Music Director Alila Hotels sejak pertengahan tahun 2018, dan bertanggung jawab akan musik untuk outlet Vong Kitchen dan Le Burger, dengan proses belajar untuk non stop aware terhadap pengetahuan scene musik baru yang tengah hype, para DJ yang naik daun, memperluas pengetahuan yang bahkan di luar arus utama referensinya. “Saat seorang Music Director bisa mengeksekusinya dengan benar, maka bisnis perusahaan akan ikut bagus,” jelas Glen tentang peran krusial Music Director dalam seni menjamu.

FOTO UTAMA: Ikmal Awfar @ikmalawfar
LOKASI FOTO UTAMA: View Restaurant & Bar @viewrestaurantjkt
FOTO PENDUKUNG: Dokumentasi Glen Nanlohy