Maroko, Permata di Daratan Afrika yang Magis

Permata di daratan Afrika yang bernama Maroko tak jarang menjadi panggilan hati bagi berbagai individu yang bahkan nama besarnya menjadi membumi saat menjejakkan kaki ke negara yang tak butuh waktu lama untuk menyebutnya sebagai rumah. Mari retrospeksi elemen magis pemikatnya.

28.02.19 by L'Officiel Indonesia

Maroko, Permata di Daratan Afrika yang Magis – Manifestasi yang mungkin menjadi paling konkrit akan panggilan hati seseorang terhadap Maroko adalah musée Yves Saint Laurent Marrakech (mYSLm) yang didirikan Pierre Berge untuk mendiang legendaris Yves Saint Laurent pada tahun 2017 lalu. Jika melihat benang intinya, museum yang menjadi dedikasi pameran untuk ekspedisi kreatif sang desainer pada akhirnya mengekspos seluruh pengaruh Maroko yang melekat pada hasil karya Yves selama lebih dari empat dekade berkariernya. Persis seperti kutipan Yves tahun 1983 saat ia menyadari bahwa rentang warna yang digunakan dalam karya busananya selalu berdasar pada ubin zellige, zouac, jubah djellaba, dan kaftan di Maroko. Keberanian akan permainan warna yang lantas tercermin pada DNA karya Yves adalah wujud kecintaan sekaligus timbal balik rasa terima kasih Yves terhadap kultur negara ini yang lebih dari ia serap, ia ambil, transformasi, dan ia adaptasi. Karakter bold nan harmonis milik Yves nyatanya adalah cerminan Maroko. Bahkan jika kita menilik lebih jauh pada arsitektur museum yang dirancang oleh Studio KO ini, spirit milik baik sang couturier sekaligus Maroko terefleksi pada lapisan batu bata layaknya rajutan fabrik khas Yves, yang secara lembut sekaligus tegas berstruktur kubus curvy, velvety, dan radian.

maroko afrika

(Photo: Fondation Jardin Majorelle / Nicolas Mathéus)

BIJOUX EXPOSITION

Tak hanya Yves yang terpaut akan Maroko berkat kedatangannya di Marakesh pada tahun 1966, yang langsung membuatnya membeli sebuah rumah di sini sebagai tempat tinggal, daya pikat yang sama nyatanya juga menyambar desainer jauhari, Paloma Picasso. Sang putri dari seniman legendaris Picasso telah berkunjung ke Marakesh sejak 1980, dan membeli rumah keduanya setelah Danau Jenewa, Swiss, di sini, Marakesh, sejak tahun 2006. Rumahnya yang menghadap Pegunungan Atlas dan dikelilingi oleh taman yang diisi sekitar puluhan pohon zaitun serta lusinan pohon sitrus, delima, ara, hingga palem, menjadi retreat bagi Paloma untuk menampung sumber inspirasi dalam mendesain koleksi perhiasan Tiffany and Co.. Contohnya seperti koleksi Zellige dengan dominasi pola geometris yang merepresentasikan lantai, lorong, dinding setiap riad, yakni rumah-rumah tradisional Maroko yang tipikalnya melibatkan taman lengkap dengan air mancur (atau elemen air lainnya). Begitu pula aksen tassel pada koleksi yang juga bisa ditemukan berhamburan di setiap medina di sini. Palet warna emas rusty dan perak yang dipahat juga menggaungkan warna ikonis dari Marakesh. Belum lagi koleksi Marrakesh yang didesain sebagai bentuk perayaan 30 tahun Paloma berkarier bersama Tiffany and Co., gelang aksen openwork juga mencerminkan kisi-kisi lentera tembaga yang tersemat di rumah-rumah Maroko.

maroko afrika

(Photo: La Trattoria / www.latrattoriamarrakech.com)

Mari retrospeksi jejak Paloma untuk merangkum keindahan yang bisa dipetik dari Maroko. Mulailah langkah dari akar kota yang bermuara di medina, alun-alun kuno khas budaya lokal Arab yang tersebar di penjuru kota Marakesh. Di sini, kabar apapun yang sedang terjadi di kota akan bergelimang antar informasi yang tertukar saat mencoba melebur dengan warga lokal. Coba berbelanja di Mustapha Blaoui untuk menemukan objek dekorasi yang bahkan langka bisa ditemukan, mulai dari barang antik hingga tembikar dan furnitur. Lalu beralih ke Café de France untuk menyesap teh mint yang menjadi daily basis para Moroccan, dan makan malam di restoran La Trattoria yang sukses menangkap intimasi scene romantis Maroko secara kontemporer. Untuk menilik scene seni, coba kunjungi galeri seni Khalid yang memamerkan lukisan cat air orisinal seniman Jacques Majorelle, dan jika ingin lebih jauh, kunjungi Jardin Majorelle, karya taman sang seniman dengan trademark cat biru yang memiliki sejarah pengerjaan selama 40 tahun. Jangan lewatkan juga untuk menikmati atraksi rally Maroc Classic yang rutin digelar sepanjang delapan hari tiap tahunnya pada 16 hingga 22 Maret mendatang, atau terjun langsung mengikuti perlombaannya seperti yang biasa diikuti Paloma di kursi navigator dan sang suami Eric Thévenet di kursi pengendara. Selama di Marakesh, pilih untuk menginap di Royal Mansour yang menawarkan eksklusivitas pelayanan luks bagi individu pendamba ketentraman elegan.

maroko afrika

(Photo: Royal Mansour / Heavens Portfolio)

INSPIRATION HOLYGRAIL

Rasanya Maroko juga berperan sama seperti India yang memengaruhi The Beatles secara besar-besaran. Karena pada tahun 1967, Maroko juga menjadi destinasi yang mengubah haluan The Rolling Stones untuk selamanya. Adalah kota Tangier yang menjadi bintang dari ekspedisi sang band legendaris. Bagaimana tidak, Tangier adalah daratan sumber kehidupan spiritual sekaligus pusat yang melahirkan generasi kreatif baru berkat karakter kosmopolis sang kota pelabuhan zona internasional tersebut. Bahkan keeksentrikannya memikat composer slash penulis Amerika, Paul Bowles, yang lantas menghabiskan 52 tahun sisa hidupnya di Tangier meninggalkan New York. Coba kunjungi properti historikal hotel El Minzah dan Café Baba untuk tahu bagaimana gemilang kota ini sukses memikat aristokrat hingga bintang rock untuk tinggal, atau setidaknya mengubah cara hidup secara signifikan.

maroko afrika

(Photo: Chabi Chic / www.chabi-chic.com)

Tangier memanglah destinasi menjanjikan di era swinging sixties hingga era ’80-an, tapi untuk menangkap gemerlap eksotisme Maroko di era kontemporer, kunjungi juga kota Chefchaoen yang dijuluki mutiara biru dan yang tranquil jauh dari hiruk pikuk kosmopolitan. Adalah konstruksi sekelompok rumah bergaya Andalusia yang holistik dicat dalam warna biru teduh pada setting berbukitlah yang menjadi nilai sinematik kota. Lanjutkan juga perjalanan menuju kota Fes yang didaulat sebagai ibukota kultural Maroko. Saat berada di Fes, pilih untuk menginap di Riad Fes di mana langganan tamu seperti Mick Jagger hingga Scarlett Johansson ke sini untuk rejuvenasi. Tapi berbicara tentang Fes, kota ini juga menjadi surga untuk menemukan harta karun hasil otentik pengrajin lokal. Mulai dari sarung bantal pola unik hasil jahitan tangan dari campuran material fragmen permadani tenun, perhiasan khas etnis Berber yang multiwarna seperti kalung bermaterial keramik, hingga kain sutra yang ditenun tangan dengan tradisi turun temurun generasi demi generasi seperti milik master Abdelkader El Ouazzani. Semuanya bisa ditemukan semeriah di medina kota Fes, atau semudah membelinya di butik Chabi Chic di Marakesh.

 

 

maroko afrika

(Photo: Riad Fes / www.riadfes.com)

OLEH: Givania Diwiya Citta
FOTO UTAMA: Riad Fes / www.riadfes.com