Paula Verhoeven & Baim Wong: United in Passion

The cover stars who dressed in love show the most real love of all.

13.09.18 by Givania Diwiya Citta

Hai Paula, Baim, congratulations for your engagement!
Paula Verhoeven (PV) & Baim Wong (BW): Thank you!

Proyek apa yang sekarang sedang sibuk kalian kerjakan, selain mempersiapkan pernikahan?
PV: Saya membangun sekolah Supermodels Project bersama teman saya Laura (Muljadi), Dominique (Diyose), dan Kelly (Tandiono). Sedang sibuk untuk Education Festival 2018 selama lima hari di Kuningan City (bulan Agustus), yang melibatkan workshop selama tiga hari penuh dan saya harus ada di sana. Supermodels Project ini awalnya digagas bertiga oleh saya, Laura, dan Domi. Kami bertemu di acara yang sama sebagai mentor, lalu tercetus ide untuk melakukan sesuatu atas dasar passion yang sama dalam modelling. Kami sama-sama ingin berpartisipasi memajukan dunia modelling karena banyak model yang ingin tahu kiat-kiatnya, dan kami ingin berbagi dan berpartisipasi dalam dunia fashion. Kami lalu bertemu dengan Kelly tahun lalu di Jakarta Fashion Week, ternyata kami punya visi yang sama untuk sekolah ini. Bahkan sekolah ini bukan hanya untuk modelling saja, ini lebih kepada sekolah modelling dan kepribadian. Siapa saja boleh ikut bersekolah, tanpa batas umur, tanpa batas latar profesi, karena ini adalah sekolah tentang entertainment dan pengembangan diri. Supermodels Project sudah berlangsung sejak 21 April tahun ini, dan sekarang memasuki batch ketiga. Kami ingin terus ada workshop, short course, hingga nanti menjadi sebuah perusahaan.
BW: Saya sedang promo film Gentayangan. Pada 6 September nanti juga akan rilis satu film lagi berjudul Jejak Cinta, dan sekarang sedang persiapan shooting dua serial tv dan satu proyek bersama Paula, tapi belum bisa diumumkan lebih lanjut. Ada pula film Ambu yang akan rilis tahun ini. Saya juga sedang buka Waroeng Maniac di Bendungan Hilir (Jakarta) dan Condet (Jakarta). Mie ayam saya, Bakmi Wong, disuguhkan di sana, ada roti bakar dan banyak lagi, dengan konsep bagaimana orang bisa makan dengan harga normal di tempat yang sangat nyaman.

Paula Verhoeven Baim Wong L'Officiel Indonesia

On Paula: Anting, FENDI. Dress, MAX MARA. On Baim: Jaket, HUGO BOSS. Celana, CALVIN KLEIN.

Kalian sudah ada di industri ini lebih dari 15 tahun. Apa kalian merasa kemampuan kalian berevolusi sesuai yang kalian inginkan?
BW: Sampai sekarang masih merasa diri ini nol. Karena semakin banyak bertemu dengan orang, semakin banyak ilmu yang belum diketahui. Ilmu tidak ada batasnya. Saya sendiri tidak pernah puas terhadap hasil, mungkin itulah yang membuat saya terus belajar. Membaca buku, sampai belajar dari aplikasi Masterclass. Yang tadinya belajar akting itu susah karena akting adalah belajar kehidupan yang kadang sulit mempelajarinya secara otodidak, sekarang dengan aplikasi berbayar ini, kita bisa berhubungan langsung dengan aktor-aktor luar negeri tentang teori akting dan sebagainya. Dulu pada tahun 2000-an, sulit untuk dapat pendidikan tentang akting. Saya mencari-cari buku dan hanya menemukannya dari koleksi buku lama di Taman Ismail Marzuki. Dari sekian buku, saya paling suka Persiapan Seorang Aktor oleh Konstantin Stanislavsky.
PV: Saya mencoba modelling ke Singapura, Milan, untuk membuktikan pada diri sendiri apakah bisa keluar dari zona nyaman, dan ternyata bisa. Saya juga merasa sudah pada puncaknya di modelling, karena masih ada keterbatasan usia dalam modelling di Indonesia, belum seperti industri model internasional. Pada tahun 2014 saya ditawari main film Supernova, dan saya berekspansi mengeksplorasi bidang lain. Baik ke akting, atau menjadi host seperti pada tahun ini. Saya terus belajar, tapi berkembang di bidang lain. Dengan membuka sekolah modelling, saya juga belajar dan sharing ilmu ke generasi muda. Ini adalah hal baru. Bila biasanya saya kerja di depan layar, kini saya bekerja di belakang layar. Membuat paper, arrangements, bertemu klien, saya banyak belajar, berinovasi, dan berkembang.

Seberapa besar pengaruhnya bekerja di luar negeri terhadap etika bekerja Anda, Paula?
PV: Tidak semua model punya mentalitas untuk keluar dari zona nyaman. Pergi ke Singapura dan Milan juga membuat etika kerja berkembang, karena saya harus mulai dari nol di luar sana, tidak seperti saat di Indonesia di mana nama saya sudah lebih dulu dikenal. Saya mengulang casting, menghadapi susahnya cari kerja. Saya jadi bisa lebih menghargai hal-hal kecil, seperti tidak mengeluh saat bekerja tidak ada konsumsi makan atau minum, sementara dulu saat di Jakarta bisa mudah bosan dengan makanan yang ada. Itulah yang bisa diajarkan ke anak-anak muda zaman sekarang. Dan karena saya bolak-balik Singapura selama empat tahun, rasanya sudah seperti rumah kedua. Beberapa bulan saya hanya full casting, dan menerima kembali bahwa penolakan adalah biasa. Belajar untuk tidak sombong dan tinggi hati. Yang penting juga adalah pemilihan lingkungan positif yang kita pilih untuk membentuk kita, terutama di usia 17 hingga 19 tahun yang paling darurat. Oleh karenanya saya ingin sekali punya sekolah ini agar saya bisa memberi arahan di masa-masa pencarian jati diri. Misalnya model, banyak pilihan menjadi model catwalk, model foto, model rokok, model majalah laki-laki, pilihannya banyak, tapi harus diarahkan saat umur-umur rawan itu.

Apa memiliki minat di bidang lain juga berpengaruh pada kemampuan berakting Anda, Baim?
BW: Tentu, dengan menyenangi bermain musik, olahraga, bisa membuat saya semakin tampak profesional saat memerankan karakter-karakter tersebut. Bahkan saya juga ingin berlatih bela diri, selain untuk manfaat utamanya, tapi juga untuk menambah bekal untuk berakting. Karena akting adalah menyelami karakter. Keluarga juga membantu membentuk karakter saya. Mama saya Sunda, papa saya Tiongkok-Belanda. Yang melekat dari papa adalah ia mandiri, tidak pernah mau menyusahkan orang lain, dan saya tidak pernah diajarkan untuk menggunakan kelebihan orang lain untuk pujian yang menjilat atau menumpang. Saya tidak pernah dimanja, tidak diberi mobil, uang jajan biasa saja, saya dididik hidup seadanya. Dan karakter mandiri ini yang mewarisi saya.

Paula Verhoeven Baim Wong L'Officiel Indonesia

On Paula: Anting, FENDI. Atasan dan rok, CHANEL. On Baim: Sweater, DIESEL.

Saya pernah menulis artikel relationship bahwa saat ada dua individu yang berada dalam ikatan positif, maka keduanya akan semakin terdorong produktif berkat energi positif yang diinjeksi dari hubungan tersebut. Apa hal ini terjadi juga pada kalian?
BW: Sangat. Karena dia mengisi kekosongan saya. Setiap orang memiliki kekurangan, dan kadang saat kekurangan itu menghampiri, sifat ini menjadi kebiasaan. Tapi dengan hadirnya dia, dia selalu mengingatkan dan bisa menanggapi. Kalau tidak ada dia, saya bisa jadi tidak terjaga dari kekurangan.
PV: Dia memang pelupa, dan saya lebih detail. Tapi yang saya terima banyak darinya adalah agama, saya kurang di situ, dan saya banyak belajar darinya. Mungkin motivasi awalnya muncul dari hubungan, tapi setelahnya harus bisa tidak bergantung untuk belajar lebih.

Apa yang membuat suatu relationship berhasil?
BW: Mencintai kekurangan pasangan kita. Kata papa saya, ‘tidak ada pasangan yang terus cocok, mama papa juga tidak selalu cocok, tapi saat kita bisa mencintai kekurangannya, itulah saat kita bisa mengikat tali pernikahan dengannya, tapi saat kita tidak bisa menerima kekurangannya, jangan’. Sesederhana itu. Tentu saat kita mencintai seseorang, kita lihat banyak kebaikannya, tapi kekurangannya juga harus dicintai. Saat keburukan itu muncul, kita harus tahu bagaimanya menyikapinya. Saat dia emosi, kita tidak boleh emosi. Harus saling melengkapi.
PV: Kepercayaan adalah fondasi utama. Dan betul menerima kekurangannya, karena tidak ada orang yang sempurna. Tapi dari pengalaman saya, cari pasangan yang tidak terlalu banyak PR-nya. Misalnya saat muda dulu masih bisa berpikir berpasangan beda agama tidak apa, mudah untuk berganti nantinya. Tapi saat faktor umur muncul, tidak bisa lagi berpikir seperti itu. Walau hobi sama, sifat sama, tapi masalah di pernikahan sudah pasti banyak. Kalau kita tidak benar-benar solid dalam hubungan dengan pasangan kita, perceraian pasti mudah terjadi. Mencintai dengan tulus, mencintai kekurangan, dan saran saya, 90% sebelum pernikahan sudah yakin dengan apa yang kita inginkan, lalu sisanya mengikuti, apakah kekurangan dia masih diterima prinsip kita atau tidak. Kalau berbicara prinsip memang susah, tapi ingat lagi apa yang membuat kita ingin menikah dan hidup dengannya.

Paula Verhoeven Baim Wong L'Officiel Indonesia

On Paula: Dress, CHANEL. On Baim: Atasan, CALVIN KLEIN.

PHOTOGRAPHY Hartono Hosea
STYLING Kiky Rory
MAKEUP Yoga Septa
HAIR Bhuto for L’Oreal Professionnel
STYLING ASSISTANT Faghfirli Elisawara
Artikel selengkapnya dalam majalah L’Officiel Indonesia edisi September 2018.