Buddha of the Lost and Found: Seri Terbaru Seniman Feldsott

28.06.19 by Min A. Lee

Feldsott – “Kadang-kadang ketika saya melihat tren dunia seni, saya melihat banyak kesengsaraan, banyak sinisme, banyak sarkasme, dan energi ini mereka hadirkan,” ungkap Feldsott kepada kami saat kami membahas tentang koleksi terbarunya, serangkaian lukisan Budha.

“Saya sering bertanya-tanya apakah ada semacam umpan balik yang terjadi di sini, dan saya cukup penasaran apakah mungkin bagi seniman untuk mulai membawa ke dunia semacam visi, alternatif lain, dan saya pikir seri Budha adalah bagian dari cara pandang tersebut.”

Dunia kita sangat terpolarisasi, bahkan hanya dalam seni atau politik saja drama dan kehancuran berkuasa atas kepekaan. Nuansa gelap mendorong pesan kemarahan yang sering kita temukan dalam seni kontemporer hari ini.

Ketika menatap “Buddha of the Lost and Found” karya Feldsott, alunan yang dikelilingi oleh warna merah lugas juga bunga merah muda yang lembut, berbeda dari para seniman yang pernah terlihat.

Lukisan itu menenangkan bahkan siapa pun bisa tersesat di lapisannya — tersesat dengan cara yang luar biasa. Karya seni dalam bentuk seri yang diselesaikan sejauh ini membawa efek yang sama.

Kami ingin tahu apa yang mendorong minat yang besar pada sosok Budha dan apa yang Feldsott harapkan akan dibawa oleh para penikmatnya ketika mereka melihat karya-karya terbarunya. “Saya menyelesaikan pertunjukan seni pop-up lintas negara yang disebut “My Enemy” di tahun 2013, dan kami membawa instalasi patung di seluruh Amerika Serikat ke berbagai tempat konflik bersejarah,” jelasnya.

“Kami mengajukan pertanyaan kepada orang-orang, ‘bisakah kamu sejenak mempertimbangkan bahwa orang yang kamu anggap musuhmu sebenarnya berbagi semua hubungan yang kamu lakukan dalam hidupmu?’ Seperti halnya mereka adalah seorang putra, ayah, ibu, anak perempuan, seorang bibi, paman, teman, suami, istri.

Jika Anda dapat melihat cara untuk memahami hal itu, dapatkah Anda berpartisipasi pada kemungkinan menawarkan doa kepada musuh Anda? Salah satu pengertian saya akan hal itu adalah ada begitu banyak ketegangan dan orang-orang bersikap sinis dan frustrasi. Setelah pulang, saya memiliki visi ini untuk bekerja dengan citra Budha.”

Ia tidak lantas mulai mengerjakan lukisan-lukisan ini, dibutuhkan meditasi dan menemukan visi yang selaras dengannya. “Saya merasa itu bukan dari sudut pandang agama, tetapi dari sudut pandang spiritual sebagai citra ikonik — kisah hidupnya beralih dari keluarga bangsawan ke dunia untuk mencari kedamaian dan kebijaksanaan, pengetahuan dan kehadiran, keseimbangan batin dan kasih sayang, serta cinta dan kebaikan,” jelas Feldsott.

“Saya memiliki visi itu pada tahun 2014. Saya perlu tiga setengah tahun untuk benar-benar memikirkannya. Bagi saya, itu adalah eksplorasi pribadi terhadap representasi itu. Potongannya seperti ditemukan yang bukan sama sekali dari plot. Banyak pekerjaan saya berkaitan dengan eksperimen, kecelakaan, dan penemuan ketika karya itu dipertunjukkan. Ini menuntun saya pada perjalanan di mana saya tidak tahu hasilnya, dan ini benar-benar terjadi pada seri Budha.”

Untuk setiap pengunjung, “saya pikir tujuan akhirnya, saya ingin mengirim mereka ke dunia sebagai persembahan untuk pertimbangan bagi orang-orang dan meditasi tentang apa artinya bagi kita semua untuk membawa lebih banyak cinta, kasih sayang, dan pengertian serta pengampunan ke dalam hidup kita dan hubungan kita. Dari benih kecil itu, kita akan melihat apa yang terjadi.”

Evolusi tidak akan terjadi dalam semalam, tapi kami sangat berharap benih kecil Feldsott ini akan tumbuh menjadi gerakan yang menarik.

 

Dok: Yisrael Feldsott