Sosok Perempuan Cemerlang di balik Tulola

We chatted with Sri Luce and Franka Franklin, who, together with Happy Salma, founded the Bali-based jewelry brand Tulola. The ladies talked about the story behind the brand, and how the Balinese women empowerment played a role in building their identity.

25.10.18 by Ardika Pradnya
Tulola Happy Salma Sri Luce Franka Franklin

Tulola – Keindahan dan kekayaan budaya Bali memang selalu menuai inspirasi bagi para seniman dan desainer baik lokal maupun mancanegara. Bagi Tulola, kerajinan perak lokal yang memiliki beberapa teknik yang hampir punah menggoda mereka untuk mengembangkan sebuah jewelry brand demi mengangkat derajat para pengrajin perak dan keahliannya yang istimewa.

Bagi Sri, menjadi seorang desainer perhiasan sudah mendarah daging. Ibundanya sendiri merupakan seorang perancang jewelry dan seniman dengan rasa kebanggan yang tinggi akan budaya dan seni Bali. Tradisi lokal yang dulunya memberikan batasan bagi perempuan untuk berprofesi selain sebagai penari atau ibu rumah tangga, membuat jiwa kreatif Ibunda Sri menjadi lebih membara. Hal ini tidak padam sampai terwariskan pada Sri yang memulai studio jewelry di garasinya sendiri, sebelum akhirnya bermitra dengan Happy Salma. Bersama-sama mereka membuka horizon baru bagi Tulola dan mengembangkannya, baik dari segi pasar hingga craftsmanship.

Sebelum Franka Franklin bergabung sebagai partner, beliau hanyalah seorang pelanggan setia yang sangat menggemari koleksi Tulola. “Setiap produknya sungguh memiliki nilai seni yang kuat” Ujarnya. Sebagai seorang perempuan yang tidak asing dengan dunia marketing, retail dan e-commerce, tentunya Franka juga melihat potensi yang kuat pada Tulola, dimana ia percaya bahwa pengalamannya dapat menjadi sebuah kontribusi yang signifikan.

tulola sri luce franka franklin happy salma

Tiga perempuan yang berbeda, namun berjalan dengan satu visi yang sama. Nampaknya itulah yang menjadi pemersatu mereka. “The good thing is, masing-masing dari kita sudah memiliki peran sendiri-sendiri and we stick to it. Saya adalah seorang desainer and i work on everything visual, Happy mendampingi saya dalam mengkomunikasikan setiap story yang melengkapi koleksinya, sedangkan Franka sangat menguasai bagian bisnis seperti logistik dan sebagainya” Ungkap Sri. Ketiganya sungguh melengkapi sebuah formula yang pas dalam menjalankan Tulola.

Hari ini, berkat bantuan dunia maya, produk Tulola telah mencapai berbagai belahan dunia dari Australia hingga kota London dan New York. “The responses have been positive, dan kami cukup bangga sebab desain kami yang sangat terinspirasi oleh alam dan budaya Indonesia dapat juga dihargai oleh klien di luar negeri” Kata Franka, “Itu juga menunjukkan versatilitas dari koleksi Tulola” Tambahnya.

Dengan era digital yang semakin berkembang, konten sosial media seperti Instagram menjadi salah satu etalase bagi Tulola yang terbukti cukup efektif. Namun mengenai konten, mereka mengungkapkan pentingnya autentisitas. “We need to show something raw and real, menurut saya itulah peran Instagram yang sesungguhnya. At the end, the audience has to feel something, a certain emotion”. Tambah Sri.  

Dengan bertumbuhnya bisnis Tulola yang akan segera membuka butik pertamanya di Jakarta, nampaknya sudah jelas bahwa Tulola’s audience is feeling that emotion. 

TULOLA 1-2018-1 TULOLA 11-2 TULOLA 10-1 TULOLA 3-2017-2
<
>

 

 

Fotografi: Ikmal Awfar.
Makeup: Aireen from VZ de Beauté.
Hair: Priscilla Christiana from VZ de Beauté.
Photographed at: Pullman Jakarta Central Park.
Wardrobe: Max Mara.
Styling Assistant: Faghfirli Elisawara.